Belajar dari Kebakaran Cibolerang: Mengapa Risiko Pabrik Tetap Tinggi Saat "Off Operational"?

Belajar dari Kebakaran Cibolerang: Mengapa Risiko Pabrik Tetap Tinggi Saat “Off Operational”?

kebakaran pabrik plastik bandung
Kebakaran hebat menghanguskan gudang biji plastik CV Cantik di Cibolerang, Bandung, Jumat (6/2/2026). (Foto: Dok. TV One)

BANDUNG – Kebakaran hebat melanda sebuah fasilitas industri pada Jumat, 6 Februari 2026, sekitar pukul 15.00–15.05 WIB. Objek yang terbakar merupakan gudang penyimpanan sekaligus pabrik pengolahan biji plastik milik CV Cantik yang berlokasi di Jalan Cibolerang No. 33B, Kelurahan Margasuka, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat peristiwa terjadi lokasi dalam kondisi tutup atau tidak beroperasi. Hal ini menyebabkan tidak adanya aktivitas pekerja di dalam area pabrik sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, api dilaporkan cepat membesar karena material utama yang terbakar adalah biji plastik, yang dikenal sangat mudah terbakar dan menghasilkan panas tinggi.

Mengapa Api Sulit Dikendalikan?

Kebakaran tersebut menghanguskan seluruh bangunan utama pabrik, dengan setidaknya lima gedung atau bagian bangunan terdampak berat. Karakteristik plastik yang menghasilkan panas ekstrem membuat api cepat menyebar dalam waktu singkat. Proses pemadaman pun menghadapi sejumlah tantangan besar:

  • Akses Logistik: Jalan menuju lokasi yang sempit memaksa armada pemadam kebakaran untuk bergantian keluar masuk, yang secara langsung memperlambat mobilisasi pemadaman.
  • Dampak Lingkungan: Kepulan asap hitam pekat akibat pembakaran plastik membumbung tinggi, menciptakan risiko kesehatan bagi area sekitar.
  • Status Investigasi: Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian, dengan estimasi kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Analisis Risiko Kerentanan Industri Pengolahan Plastik

Peristiwa ini kembali menyoroti bahwa gudang dan pabrik plastik memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis industri lainnya. Selain faktor material, tata letak bangunan dan aksesibilitas menjadi faktor penentu cepat atau lambatnya penanganan darurat.

Kejadian ini juga menjadi pengingat penting: Risiko kebakaran tidak hanya muncul saat aktivitas produksi berlangsung. Sistem keamanan tetap menjadi kebutuhan absolut meskipun gedung sedang dalam kondisi kosong.

Highlight Solusi: Evaluasi Manajemen Risiko Kebakaran

Bagi pelaku usaha, insiden ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk menekan potensi kerugian besar melalui tiga pilar utama:

  1. Sistem Deteksi Dini & Pengawasan: Mengingat api bisa muncul saat pabrik tutup, sensor suhu dan asap yang terintegrasi sangat diperlukan untuk deteksi sebelum api mencapai fase flashover.
  2. Penataan Area Penyimpanan: Mengatur jarak aman antar material plastik dan memastikan tidak ada penghalang di jalur evakuasi atau akses armada pemadam.
  3. Perencanaan Keamanan Berkelanjutan: Perlindungan aset melalui audit instalasi listrik secara berkala untuk menghindari pemicu api saat bangunan tidak diawasi.

Kesimpulan

Meskipun tidak terjadi korban jiwa, kerugian aset tetap menjadi dampak utama yang sulit dihindari ketika api sudah terlanjur membesar. Kesiapan menghadapi kondisi darurat dan perencanaan keamanan yang matang adalah investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan bisnis, terutama bagi industri dengan material berisiko tinggi seperti plastik.

Baca Juga  Pallet Plastik Bekas 110x110x12 untuk Pergudangan: Efisien, Stabil, dan Siap Pakai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top